Pages

Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 April 2014

Pesta Demokrasi Dan Kopdar

Meski Pemilu Legislatif 9 April telah usai, gak ada salahnya saya cerita tentang partisipasi kami dalam pesta demokrasi 5 tahunan Indonesia. Yup... seperti pilkada Jakarta 2 tahun yang lalu, Ayah tidak mendapat undangan untuk memilih. Pada tahun ini kejadiannya terulang kembali, hanya saya saja yang mendapat undangan memilih. Entah kenapa carut marut daftar pemilih Pemilu masih saja terjadi dari tahun ke tahun.

Baiklah.. karena pemilih seperti Ayah yang tidak mendapat undangan bisa menggunakan hak pilihnya di atas jam 12 siang maka kami meluncur ke TPS sekitar jam 11.00. Sampai di TPS 001 suasana sudah sepi hanya ada 1 orang saja yang duduk di kursi untuk menunggu giliran. 

Setelah mendapat nomer antrian kami duduk dan tak lama kemudian dipanggil untuk masuk ke bilik suara. Dengan mengucap Bismillah saya memilih wakil rakyat yang dianggap paling baik. Ada 3 surat suara yaitu untuk DPRD, DPR RI dan DPD, semuanya dipilih dengan harapan semoga sang wakil rakyat terpilih bisa menjaga amanahnya dan memberi perubahan lebih baik pada Indonesia *ceilaaa bahasanya* :)
Mari nyoblos

Seperti yang sudah diduga, hari itu banyak sekali foto selfie yang menunjukkan jari tangan bertinta ungu. Dan saya pun tak mau ketinggalan dong, hahaha... Tapi kali ini jari tangan saya yang ber-selfie ria dengan back ground wajah Samara.
Finger selfie.. :)
Oiya, trus gimana dengan Ayah? Alhamdulilah gak mengalami kesulitan, tinggal menunjukan KTP saja trus dapat nomer urut antrian. Akhirnya kelar sudah kami menggunakan hak pilih dan menyatakan diri bukan termasuk Golongan putih alias golput :)

Acara selanjutnya adalah kumpul keluarga besar Ayah di rumah mendiang kakek yang tak jauh dari lokasi TPS. Kami ngumpul karena ada salah satu Uwak yang berulang tahun. Makan siang lah kami di sana sambil ngobrolin serba serbi pemilu.

Sekitar pukul 14.20 pamit dan meluncur ke Penvill untuk kopdar dengan Blogger Kwek Kwek. Seperti biasa penentuan lokasi kopdar cukup alot dan akhirnya para BSD'er dan Bekasi'er mengalah untuk jalan jalan ke selatan Jakarta hehehe... 

Sampai di Penvill jam 15.00 dan sudah ngumpul semua di Java Bean, ada mak Desi dan Radit, Yeye dan Millie serta Pak Lombi, Pungky dengan Hanif dan Papapnya trus Dani dengan Bul dan Aaqil. Lumayan lengkap yaa formasinya... etapi mak Etty gak bisa hadir dan sebagai gantinya ada blogger cantik yaitu Indah Mumut datang bersama Oddy dan papanya.

Seperti biasa kalau sudah ngumpul pasti heboh cerita ngalor ngidul, sampai katanya nih ada kejadian Radit yang kepedesan gegara mamanya salah colek saos sambal, hahaha.... saking asyiknya ngobrol :)
ngobrol seru...makan juga tak kalah seru :)
Gak terasa waktu udah sore dan kami memutuskan untuk mengakhiri kopdar. Emang yaa... yang namanya kopdar itu nyandu, meski udah ngobrol di grup WA tapi tetep aja kalo udah kangen ujung ujungnya pasti kopdar.

Sebelum bubaran kami, gak afdol kalo gak foto narsis. Trus kemana para anak dan suami? Udah pada bubar jalan sendiri sendiri, hehehe...
Blogger pria diantara emak blogger :)
Mungkin ini kopdar terakhir sebelum mak Yeye brojolan. Next kopdar insya Allah nengokin dedeknya tata Miyi yaa... :)


Kamis, 12 Juli 2012

Jakarta Memilih

Tanggal 11 Juli 2012 adalah pesta demokrasi bagi warga Jakarta untuk memilih Gubernur dan Wakil Gubernur periode tahun 2012-2017. Kenapa pemilu sering disebut pesta demokrasi? IMO yang namanya pesta berati ada banyak orang yang terlibat di dalamnya. Jadi pesta demokrasi adalah pesta dimana semua rakyat berkumpul untuk melakukan kegiatan demokrasi *cmiiw*

Sebenarnya gak ada yang menarik dari pilgub kali ini tapiii...buat saya dan pak suami ada cerita di balik ini semua yang menurut saya bisa dijadikan bahan pemikiran seperti inikah wajah birokrasi pilkada?

Setelah menikah saya resmi menjadi warga Jakarta, yang sebelumnya KTP saya masih berlogo daerah Kabupaten Tegal. Hal ini untuk memudahkan urusan pembuatan kartu keluarga dan perijinan yang lain. Meski kami telah memiliki gubug sendiri di bilangan Jagakarsa Jakarta Selatan tetapi untuk alamat domisili saya masih nebeng di rumah mertua. 

Singkat cerita saya sudah mendapatkan undangan dan kartu pemilih tapi....si ayah belum mendapatkannya. Info dari Bu RT (keren yaa...ketua RTnya seorang ibu) si ayah bisa ikutan nyoblos dengan menunjukan KTP asli dan menyerah fotokopiannya. Saya heran kenapa bisa nama ayah gak tercantum dalam daftar pemilih? Padahal nama saya, ibu mertua dan adik ipar sudah ada, kenapa ada 1 nama yang ketlingsut (terselip)? Gimana tuh panitianya? *tanyakenapa* Ya sud lah kita lihat saja nanti apakah ayah bisa ikutan nyoblos atau gak?   

Dan hari ini yang sebagian orang libur tapi saya gak libur *hiksss* kami mendatangi TPS 01 untuk menggunakan hak pilih kami. Oiya kenapa saya gak libur? Itu karena bank sentral kita gak libur, sistem RGTS dan SKN berjalan seperti biasa, jadi secara otomatis saya juga gak ikutan libur. Eitsss...saya bukan orang yang beruntung kerja di bank sentral loh, tapi alhamdulilah bernasib kerja di salah satu bank swasta *kagak ada yang nanya kaleee, Yan...* :)
Yang bikin mupeng nih...karena si ayah cuti maka berencana ngajak Samara jalan jalan *hu..hu..hu..* Eh kok ngelantur begini sih ceritanya... *fokus*

Etapi sebelum berangkat ke TPS saya mejeng dulu ah sambil mamerin kartu pemilih yang bikin ayah cengar cengir keki :)

mari kita nyoblos...
Dalam perjalanan menuju TPS lancar banget karena emang banyak yang libur dan kami sempat nyabu #nyarap bubur# dulu, ketika melanjutkan perjalanan tiba tiba macet di Jl Kemang Raya. Ada apa gerangan? Ternyata ada salah satu calon gubernur yang selalu menggunakan baju batik orange bercorak monas itu datang ke TPS 13 Kemang untuk nyoblos. Banyak sekali wartawan yang berlomba untuk mengambil gambar beliau yang kala itu datang dengan dibonceng motor. Sayangnya saya terlambat mengambil henpon jadi gak sempat memfoto si bapak itu *norak yak* :)

Sampai di TPS jam 8.15 langsung menyerahkan undangan dan kartu pemilih kepada petugas. Tak lama menunggu (kurang dari 10 menit) nama saya dipanggil untuk kemudian diberikan surat suara. Dengan cap cip cup kembang kuncup mengucap Bismillahirohmanirrohim saya memilih satu calon gubernur yang saya anggap paling baik dan pantas. Alhamdulilah saya telah menunaikan kewajiban untuk menggunakan hak pilih saya dan alhamdulilah juga saya gak termasuk dalam golongan orang orang Golput :)

tunai sudah acara nyoblos ^_^
 Nah...bagaimana dengan ayah? Hadooohh...ini yang ribet. Si ibu RT yang kebetulan jadi panitia itu mengatakan bisa saja ayah memilih tapi petugas yang lain gak langsung mengiyakan. Mereka mengecek terlebih dahulu daftar pemilih dan ternyata memang tidak ada nama ayah disana. Etapi....di lembar daftar pemilih sementara ada nama ayah disana. Nah loooo...kenapa bisa begitu ya? Di daftar pemilih sementara ada tapi di daftar pemilih terakhir gak ada? Saya gak tahu cara kerja mereka kok bisa missed begitu? Apa kelewat pada waktu pengetikan atau memang dianggap tidak memenuhi syarat untuk menjadi pemilih? Entah lah saya gak tahu... Dan ternyata kejadian ini gak terjadi pada si ayah saja, teman saya juga begitu. Suaminya dapat terdaftar tapi istrinya gak? Trus piye jal?

mencari dan terus mencari

Setelah para petugas diskusi akhirnya ayah bisa nyoblos juga dengan melampirkan fotokopi KTP, tapi sebelumnya 2 orang pihak saksi dipanggil oleh petugas untuk diberikan informasi kalo ada tambahan pemilih yang bernama Daris Qudsy. 

para saksi pun dikumpulkan
Lumayan lama juga nunggu keputusan itu, tapi alhamdulilah akhirnya ayah bisa menggunakan hak pilihnya.

yeaaayyy akhirnya nyoblos juga ^_^
Kelar sudah tugas kami sebagai warga Jakarta yang baik berpartisipasi dalam pesta demokrasi pilgub kali ini.

Siapapun nanti yang jadi pemenang DKI 1 dan diberi kepercayaan oleh rakyat untuk memangku jabatan sebagai Gubernur hendaknya dapat melakukan tugasnya dengan baik, jujur dan dapat dipercaya untuk merubah Jakarta menjadi lebih baik. Karena itu semua adalah amanat rakyat yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada sang Kholik.

So...bagi cagub yang gak terpilih seharusnya dapat menerima keputusan dengan hati legowo dan bersyukur karena hisab di akherat nanti makin ringan karena tiap amanah akan dimintai tanggung jawabnya :)  

#eh gosipnya bakal ada pilgub putaran kedua nih, libur lagi dong si ayah, hiksss#