Ini adalah hari ke-25 Samara tidak minum susu bunda. Perjuangan cukup panjang yang kami tempuh demi berhasilnya Weaning With Love.
Berawal dari 2 bulan sebelum Samara berulang tahun yang ke-2 Bunda sudah sounding wwl dengan cara mengajak Samara bicara dan memberikan afirmasi positif dikala Samara bobo atau sedang bermain. Selain itu cara hypnopareting juga sudah bunda terapkan.
Perjalanan wwl tidak luput dari omongan orang lain yang mengatakan bunda tidak tegas pada Samara, bunda kurang mengajarkan kemandirian pada Samara. Oh nooo...yang namanya weaning with love itu adalah proses menyapih dengan cinta dimana tidak ada pihak yang tersakiti baik ibu maupun anak. Kalo dalam proses wwl ada drama tangis di dalamnya itu namanya bukan wwl *eitsss...itu murni pendapat saya loh...*
Masih ingat cerita teman saya yang menyapih anaknya secara paksa dan hasilnya kedua belah pihak malah tersakiti. Si anak sakaw sampai nangis gegerungan pengin menyusu tapi si emak kekeuh tidak meloloskan permintaannya alhasil PD emak bengkak dan sakit. Sooo...gak banget kan? Kenapa kita harus memaksa anak dikala belum siap?
Dan kenapa pula kita harus mengakhiri masa masa intim menyusui dengan cara yang menyakitkan? Bahkan dulu ketika anak lahir kita berharap banget bisa segera menyusui sampai dirangsang dengan berbagai cara eh...ketika harus lepas kok ya caranya dengan kekerasan, kepalsuan dan kebohongan?
Kenapa saya bilang begini karena banyak ibu ibu yang berbohong pada anaknya kalo putting si ibu pahit (dengan cara mengoleskan aneka ramuan pahit), putting ibu berdarah (dengan mengoleskan obat merah) atau menutup putting dengan plester.
Menurut saya itu bukan cara yang tepat, itu bukan termasuk dalam weaning with love yang sesungguhnya.
Memang sih wwl itu butuh perjuangan dan waktu perjalanan yang tidak singkat, disamping itu butuh extra kesabaran. So...panjang panjangin deh sumbu sabarnya.
Tidak memungkiri keadaan di tengah perjalananan saya terseok seok dan SERING merasa give up dalam wwl ini, aseli...hampir menyerah rasanya dan pengin putting diolesin pahit pahitan tapiiiiii.....saya harus ingat kembali makna wwl dan berkali kali ayah dengan sabarnya mengingatkan saya *thanks to ayah, u're the best breastfather*
Kalo memang mau menyapih dengan drastis, saya gak perlu susah susah menempuh cara ini cukup dengan mengolesi ramuan pahit atau obat merah saja sudah beres.
Dulu saya berharap Samara akan weaning her self tapi melihat tingkah polahnya yang masih belum bisa lepas dari nenen bunda, saya pesimis. Ya sudah saya ikuti saja caranya Samara. Dan lagi lagi saya tidak akan memaksa karena ternyata banyak juga kok buibu yang berhasil wwl ketika anak hampir berulang tahun yang ke-3?
Sebetulnya sudah sejak usia 2 tahun Samara nenen hanya malam hari saja, siangnya Samara minum susu uht menggunakan sedotan. Alhamdulilah banget Samara gak ngedot. Botol susunya terakhir digunakan 1 bulan sebelum ultah ke-2 tepatnya bulan Februari 2012 dimana Samara sudah tidak mau lagi minum ASIP. Saya bersyukur sekali Samara tidak tergantung pada dot tapiiii...untuk nenen, saya butuh waktu lama.
Konsekuensinya kalo mau bobo malam Samara masih minta nenen. Oke lah saya ikuti saja toh Samara belum berusia 3 tahun karena target saya wwl maksimal 3 tahun. Lebih dari itu MUNGKIN saya akan menempuh cara lain yang drastis.
Alhamdulilahirobbil allamin malam demi malam kami lewati dengan berinteraksi sepeti mendongeng dan bernyanyi guna mengalihkan perhatiannya. Emang gak mudah yaaa...karena tak jarang ketika mendongeng tiba tiba Samara merengek minta minum susu bunda. Kalo sudah begitu saya betul betul galau tapiiii untung si ayah *lagi lagi si penolong datang* ambil alih mencoba membujuk Samara dengan caranya.
Terkadang saya geli melihat si ayah yang udah kehabisan ide bercerita dan bernyanyi, namun ayah berusaha hingga akhirnya Samara tertidur.
Oiya ada kebiasaan Samara yang sampai saat ini masih dilakukan yaitu mencium siku tangan saya. Jadiii... kalo Samara sudah merengek minta nenen, saya kasih pengertian trus dia langsung mencari siku tangan saya untuk dipegangnya hingga akhirnya terlelap ^__^
Awal awal Samara gak nenen, bobonya jadi malam terus terkadang sampai jam 22.00 bahkan lebih. Gelisah sekali rasanya mau bobo tapi Samara gak nangis cuma bolak balikin badan terus. Kasian juga melihatnya tapi saya akhirnya menawarkan diri untuk mengusap punggungnya untuk memberi kenyamanan. Alhamdulilah cara itu berhasil..*sujud syukur*
Setelah sudah 24 hari berhasil tidak nenen malam, tadi malam Samara ingat lagi dan minta minum susu bunda. Waahhh...saya kaget loh, padahal saya pikir sudah lebih dari 3 minggu gak nenen Samara akan lupa eternyata gak loh...
Tapi dengan pengertian yang saya berikan akhirnya semalam bobo dengan suksesnya. Saya dan si ayah sempat khawatir, jangan jangan bakal balik ke awal lagi :(
Semoga malam malam berikutnya Samara sudah tidak minum susu bunda lagi. Mengingat kejadian semalam, hari ini saya belum berani ketok palu menyatakan Samara lulus wwl.
Saya hanya bisa berharap dan berusaha semoga Samara lulus wwl dengan predikat cum laude *__* Amin
Senin, 10 Desember 2012
Kamis, 06 Desember 2012
Blog Hitstats
Jujur saya suka takjub dengan blog para seleb yang kolom komennya bisa sampe ratusan seperti Ko Arman yang tiap postingannya minimal banget 100 komen, ckckckck...*sungkempadasuhu* Kalo saya sih yang komen 5 orang aja sudah sesuatu banget, maklum lah saya baru 1 tahun ini ngeblog, jadi masih tergolong new comer dibanding dengan teman teman lain. Sempat cerita dengan Nike pas ketemu di seminar Parenting kemarin, dia bilang udah 4 tahunan ngeblog *CMIIW*
Dulu awal saya ngeblog bersyukur banget ada 1 komen dan itu satu satunya komen di setiap postingan yaitu Jeng Allisa. Terima kasih ya Jeng...:)
Kemudian sering BW dan komen ke blog teman jadi sekarang lumayan banyak yang komen. Hehehe..kok saya jadi banci status gini ya? Selain itu saya juga suka posting di FB untuk promosiin blog ini. Etapiii...gak semua tulisan saya posting di FB juga loh, cuma tulisan yang kira kira saya pengin saya share inpohnya, kaya rangkuman seminar, review trus tentang tumbuh kembang anak. Saya sih gak muluk muluk, tiap hari ada penggunjung yang mampir di blog ini aja sudah sangat bersyukur.
Dan kemarin si ayah iseng buka blog ini, ternyata dia adalah pengunjung ke 22.222. Wooww...unik banget kan angkanya? *menurut saya loh yaa* Makanya si ayah langsung fotoin. Jiaaahhh bener bener banci status nih ^__*
![]() |
| Alhamdulilah udah banyak yang baca |
Menurut saya nih kalo mau naikin blog stats salah satunya caranya dengan banyak komen di blog orang lain dan posting di FB atau twitter. Hmmm...cuma itu aja sih cara yang saya tempuh. Ada cara lain? Yuk share dimari *lagi lagi saya keGRan kaya ada yang baca tulisan ini* ^__^
Selasa, 04 Desember 2012
Bicara Seks Pada Anak? Siapa Takut
Hari Sabtu 1 Desember kemarin saya beruntung bisa mengikuti Seminar Parenting Tetralogy session 4 dengan judul "Pede Bicara Seks Pada Anak" yang diadakan oleh Supermoms Indonesia dengan pembicara Ibu Elly Risman. Sebetulnya ini kali kedua saya mengikuti seminar tetralogy yang terdiri dari 4 sesi.
Sesi Pertama 1 berlangsung pada tanggal 1 September 2012 yang mengusung tema "Tantangan Mendidik Anak di Era Digital" tapiiiii...sayangnya rangkuman seminar sesi 1 tidak diposting, cukup diposting di memori otak saya saja *__*Pembelaan diri padahal sih malas nulis hehehe...
Buat yang mau baca rangkumannya bisa dilihat di webnya Supermoms Indonesia dimari.
Sesi 2 dan 3 memang skip gak ikutan, saya kembali menuntut ilmu dari Ibu Elly Risman pada sesi 4. Dan karena menjadi orangtua itu gak ada sekolah khusus, yuk kita sama sama belajar.
Mari kita mulai bercerita etapi maaf ya mungkin postingan ini agak panjang, dilarang bosen yaaa ^__^
Sebelum panjang lebar saya bercerita, yuk kita samakan persepsi dulu tentang perbedaan sex dan sexualitas. Sex adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan alat kelamin. Seksualitas adalah totalitas kepribadian, bagaimana seseorang tampil ketika berdiri, tersenyum, berbusana, tertawa, menangis, berfikir, bersosialisasi, berbudaya yang menunjukan siapa diri kita sesungguhnya.
Seminar kali ini dibuka dengan pemutaran video acara Kick Andy yang isinya menceritakan pelaku seks usia muda yang pertama kali melakukan hubungan seks dari kelas 6 SD. What??? Kaget?? Udah pasti dan saya hanya bisa menarik nafas dalam dalam.
Kemudian Ibu Elly bertanya kepada audience : "Bisakah anda menjawab pertanyaan anak jika bertanya Apa sih Pemerkosaan itu, Mama? Kenapa sih payudaraku besar sebelah? Keputihan itu apa sih?" Sebagai orang tua rasanya saya belum siap jika Samara tiba tiba bertanya sepeti itu?
Nah...sebelum ada pertanyaan seperti itu alangkah baiknya orangtua membekali diri dengan jawaban yang relatif bisa diterima anak seusianya.
Pertanyaan lain, kapan sih orangtua mulai bicara seks kepada anak? Menurut paparan Ibu Elly bahwa tiap anak kematangannya berbeda beda jadi alangkah baiknya kalo kita sebagai orang tua jeli dan peka melihat perkembangan anak. Karena tingkat kematangan anak lelaki dan perempuan saja sudah berbeda, lebih cepat perempuan.
So...gak bisa dipukul rata kita harus mulai bicara seks pada usia 8,9 atau 10. Memang sih rata rata anak jaman sekarang akan matang di usia 9 tahun dimana pada usia itu anak perempuan ada yang sudah mendapat menstruasi. Nah alangkah baiknya kita memulai pembicaraan seks pada anak diusia 8 tahun untuk membekali anak dan jangan sampai menunggu anak yang bertanya duluan yaaa... *selfreminder*
Fakta yang terjadi di luar, hampir setiap hari stasiun TV menyiarkan program/rekonstruksi pemerkosaan pada anak balita, oleh kakaknya, murid kelas V/VI SD atau siswa SMP. Dan menurut Pusat Konsultasi Terpadu RSCM jumlah kasus anak yang dirujuk untuk memperolah konseling karena pemerkosaan dan incest (hubungan antar keluarga kandung) yaitu sekitar 80%.
Dari responden yang terdiri dari siswa kelas 4,5 dan 6 SD diperolah hasil bahwa 40% anak belum pernah pacaran, 26% baru tahap naksir, 6% PDKT, 4% sedang punya pacar, 3% sudah pacaran lebih dari 1 kali, 11% lain lain dan 2% missing. Kemudian kegiatan yang menurut mereka disebut pacaran adalah 26% telp telponan, 19% jalan jalan, 7% pegangan tangan, 3% ciuman, 2% pelukan dan sisanya lain lain (ngobrol, bbm, curhat, belajar bersama)
Melihat data di atas sepertinya tugas dan tanggung jawab orang tua jaman sekarang sangatlah berat.
Beberapa kelalaian kita sebagai orangtua diantaranya :
1. Ketidaksiapan menjadi orang tua.
Menjadi orangtua itu berat karena tanggungjawabnya langsung kepada Allah. Saya sempat tertampar ketika Ibu Elly berkata : "Menjadi orangtua itu repot, trus siapa suruh punya anak?" Huaaa...JLEB banget kan?
2. Tidak punya tujuan pengasuhan.
Ini yang kebanyakan orangtua tidak lakukan. Sudah seharusnya kita merumuskan tujuan pengasuhan dan itu harus dibicarakan dengan pasangan. Istilah kasarnya nih...kalo kita main bola, tujuannya adalah mencetak gol eh...masa sih mendidik anak gak ada tujuannya? Karena jika tidak ada tujuan pastinya nanti akan berjalan melenceng tak tentu arah *JLEB lagi*
3. Meng-sub kontrakan Pengasuhan.
Meski dalam penjagaan anak kita dibantu oleh nanny/ART atau orangtua kita (eyang/nenek/kakek) tetapi tidak seharusnya orangtua menyerahkan pengasuhan anak pada mereka karena mereka tidak di design untuk mendididik anak. Yang namanya nanny/ART *maaf* pendidikannya relatif rendah sedangkan eyang/nenek sudah tua, sudah pasti secara fisik tidak akan sanggup mengikuti aktivitas sang cucu. Jadi..kita lah yang menjadi orangtua yang harus mendidiknya.
4. Export Pendidikan agama dan penerapannya.
Banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah yang berbasis agama (sekolah Al...Al...Al...) dengan harapan tercukupi semua ilmunya tetapi pendidikan agama harus tetap diajarkan oleh orangtuanya.
5. Tidak Membedakan Pengasuhan anak lelaki dan Peremupuan
Perlu diketahui bahwa kaum lelaki itu diciptakan dengan kecenderungan berfikir menggunakan otak kiri. Kemampuan verbal antara lelaki dan perempuan sangat berbeda. Jangan harap kita bisa panjang lebar bicara pada anak lelaki dan mereka bisa menangkapnya, jadi percuma aja kita cerewet pada anak lelaki. Perkembangan anak lelaki dan perempuan jelas berbeda, anak perempuan lebih cepat kira kira 1 tahun. Anak perempuan yang kecenderungan menggunakan otak kanan akan lebih bagus kemampuan verbalnya.
6. Beban Pelajaran Sekolah Yang Sangat Berat
Jaman sekarang pelajaran anak di sekolah makin berat saja, ditambah dengan les ini les itu yang akan membebani si anak. Terkadang orangtua tidak peka akan kondisi seperti itu yang nantinya membuat anak menjadi stress.
7. Kurang Siap, Tanggap dan Gaptek
Lagi lagi ngomongin teknologi yang gak ada habisnya. Perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat anak juga berkembangan dengan cepat. Perubahan teknologi ini membuat orangtua harus belajar lagi biar tidak kalah dengan anak.
8. Memberi anak perangkat teknologi
Kita sebagai orangtua harus lebih pintar dari anak, jangan sampai kita memberikan perangkat teknolgi yang canggih pada anak tapi orantuanya justru gaptek karena akan berdampak negatif pada anak. Dampingi anak dalam pemakaian perangkat canggih itu.
9. Kurang berkomunikasi dengan baik dan benar.
Miss komunikasi dengan anak akan membuat orangtua tidak memahami perasaan anak. Berikan informasi yang tepat pada anak agar anak tidak mencari jawaban sendiri di luar dengan media lain karena tidak menutup kemungkinan cara tersebut malah menyesatkan anak. Perlu diingat bahwa saat ini anak berkembangan di era digital.
10. Kurang Memahami Cara Kerja otak dan Tahapan perkembangan
Anak usia 2-3,5 tahun sel sel otaknya belum tersambung dan perkembangan sel otak itu akan sempurna di usia anak 7 tahun. Jadi mendidik anak seusia Samara saat ini lebih ditekan pada perasaan dan empati *maafkan Bunda, nak yang terkadang emosi dan marah denganmu* Tak heran jika sekarang banyak anak yang brutal, suka tawuran karena sejak kecil tidak diajarkan empati.
Dari 10 point kelalaian orangtua dalam mendidik anak, yuk sekarang kita harus punya prinsip dasar bahwa Orangtua adalah pendidik utama dan pertama dalam mengajarkan sexualitas. Berikan informasi dengan landasan agama dan putuskan masa lalu dengan menganggap bicara sex itu tabu dan saru.
Caranya yaitu :
1. Orangtua harus menyikapinya dan mempersiapkan sesuai usia anak
2. Latihan berbicara, caranya gunakan istilah dalam Al Qur'an
3. Miliki "The Courage To Be Imperfect" (jangan jaim)
4. Waspada
Rasa ingin tahu anak tentang seks adalah wajar karena inilah konsekuensi dari perkembangannya. Rasa ingin tahunya juga berulang ulang dengan issue yang sama. Semakin usia anak meningkat semakin detail rasa ingin tahunya.
Kiat dalam menghadapi pertanyaan anak seputar sex :
1. Tenang, kontrol diri dan jangan panik (relax)
2. Tarik nafas panjang and take it easy
3. Cek pemahaman anak dengan bertanya kembali : "yang kamu tahu apa nak?" Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengertian anak akan hal yang akan ditanyakan.
4. Katakan apa yang kita rasakan.
Seandainya kita kaget akan pertanyaan anak, ungkapkan lah dengan kata kata yang halus : "ih...bunda kaget loh dengan pertanyaanmu?"
5. Jawablah pertanyaan dengan Pendek dan Singkat.
Seandainya kita tidak/belum bisa menjawab, tunda dengan jujur, berikan batas waktu kapan kita bisa menjawabnya. Tapiiii...jangan kelamaan ditunda ya nanti malah si anak keburu cari jawaban sendiri.
6. Kunci jawaban dengan norma agama
Misalnya kalo seorang wanita sedang menstruasi itu tidak boleh sholat karena Allah melarangnya.
7. Gunakan The Golden Opportunity/Kesempatan Emas
Kesempatan dimana kita dapat menceritakan sesuatu/seksualitas kepada anak.
Di tengah tengah seminar para peserta juga diajak untuk praktek menjawab pertanyaan anak.
Contohnya :
Anak : Ma, boleh gak kita pelukan?
Mama : Yang kamu tahu apa?
Anak : Boleh..
Mama : Iya boleh kalo pelukannya dengan ayah, bunda, adik dan kakak
Tetapi jika anak menjawab :
Anak :Gak boleh
Mama : Iya, gak boleh kalo pelukannya dengan sembarang orang. Itu dilarang oleh Allah
Jadi kita gak boleh mematahkan jawaban anak karena itu kita perlu cek pemahaman dengan bertanya "yang kamu tahu apa?"
Anak : Ma, kapan sih aku mulai mens?
Mama : Yang kamu tahu apa?
Anak : Nanti kalo sudah besar
Mama : Iya benar, tetapi tiap orang berbeda beda ya..semua itu ditentukan oleh Allah
Berikut contoh komunikasi orangtua dan anak yang salah :
Anak : Ma, aku asalnya dari mana sih?
Mama : *panik* kamu kok nanya begituan sih?
Anak : aku kan mau tahu, ma...
Mama : jadi begini ya nak, awalnya mama papa sayang sayangan trus mama hamil, trus mama melahirkan kamu *menjawab dengan nada nyerocos*
Anak : aku gak ngerti mama ngomong apa? tadi temanku bilang kalo asal ibunya dari Medan dan bapaknya dari Madura. Trus sekarang aku mau tahu aku asalnya dari mana?
Gubrakkk....salah persepsi kan? Makanya lagi lagi harus ditanyakan : "yang kamu tahu apa?" Daripada kita menjelaskan panjang lebar dan bikin anak bingung, eh ternyata bukan itu jawaban yang dimaksud.
Jadi berikanlah penjelasan atas jawaban anak, kita hanya meluruskan dan mengunci jawaban dengan norma agama. Jangan pernah mencecar anak dengan pertanyaan balik dan menggantung jawaban karena akan membuat anak jadi malas bertanya lagi.
Di akhir seminar juga ada sesi tanya jawabnya, beberapa pertanyaan muncul dan yang paling menakutkan adalah kisah seorang ibu yang anaknya berusia 3,5 tahun tiba tiba bilang "Mama, minum pipis" dan "Mama makan ini (sambil menunjukan penis ke mamanya) Subhanallah saya merinding dan ibu Elly menjawab kemungkinan besar si anak pernah melihat gambar begitu entah dari internet atau hape dan si anak ingat terus. Besar kemungkinan dari hape nanny-nya.
Adalagi kasus anak kelas 4 SD mau disunat ternyata ketika sampai di tempat sunat si tukang sunatnya bilang kalo penis si anak besar sekali. Usut punya usut ternyata ketahuan kalo si anak seringkali dipake oleh si baby sitter untuk oral seks. Naudzubillah mindzalik.. Horor banget kan?
So, hati hatilah jangan dikira anak kita aman dipegang oleh pengasuh.
Kemudian kasus anak remaja usia 17 tahun dan tidak mau diantar ibunya kemana mana kemudian si anak tidak mau cerita/terbuka dengan orangtua. Menurut ibu Elly ada yang salah komunikasi antara orangtua dan anak gadisnya. Saya pikir itu hal yang wajar, namanya juga anak remaja pasti gak mau cerita sama orangtuanya, mereka lebih nyaman cerita dengan teman temannya etapiiii...justru itu yang salah. Jika anak sudah beranjak remaja, orangtua harus memposisikan diri menjadi seorang teman bagi anaknya.
Ternyata banyak fakta terungkap dari kekerasan seksual baik itu bersumber dari teknologi yang serba canggih atau lingkungan sekitar.
So, meski kita sudah mendidik anak sebaik mungkin dengan menerapkan norma norma agam dan menyekolahkan ke sekolah favorit, tapiii...itu semua gak cukup karena bahaya dari luar bisa mengancamnya. Maka dari itu berdoalah agar anak selalu dalam lindungan Allah SWT karena tidak ada yang bisa menjaga anak kecuali Allah *kekepin Samara*
Kembali lagi saya menegaskan bahwa kesimpulan yang dapat diambil dari seminar ini bahwa Orangtua adalah pendidik utama dan pertama dalam mengajarkan sexualitas.
Semoga kita selalu diberi kekuatan dan kesabaran dalam mendidik dan mengasuh anak untuk mencetak menjadi anak sholeh dan sholehah. Tak lupa berdoa agar kita dan buah hati kita selalu dalam Lindungan Allah. Amin...
Karena kita sebagai orangtua kelak akan ditanya dan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
OOT : Oiya dalam seminar kemarin juga saya bertemu dengan teman2 dunia maya yang selama ini hanya bertegur sapa lewat komen komen di blognya.. Senang rasanya bisa bertemu langsung *__*
Sesi Pertama 1 berlangsung pada tanggal 1 September 2012 yang mengusung tema "Tantangan Mendidik Anak di Era Digital" tapiiiii...sayangnya rangkuman seminar sesi 1 tidak diposting, cukup diposting di memori otak saya saja *__*
Buat yang mau baca rangkumannya bisa dilihat di webnya Supermoms Indonesia dimari.
Sesi 2 dan 3 memang skip gak ikutan, saya kembali menuntut ilmu dari Ibu Elly Risman pada sesi 4. Dan karena menjadi orangtua itu gak ada sekolah khusus, yuk kita sama sama belajar.
Mari kita mulai bercerita etapi maaf ya mungkin postingan ini agak panjang, dilarang bosen yaaa ^__^
Sebelum panjang lebar saya bercerita, yuk kita samakan persepsi dulu tentang perbedaan sex dan sexualitas. Sex adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan alat kelamin. Seksualitas adalah totalitas kepribadian, bagaimana seseorang tampil ketika berdiri, tersenyum, berbusana, tertawa, menangis, berfikir, bersosialisasi, berbudaya yang menunjukan siapa diri kita sesungguhnya.
Seminar kali ini dibuka dengan pemutaran video acara Kick Andy yang isinya menceritakan pelaku seks usia muda yang pertama kali melakukan hubungan seks dari kelas 6 SD. What??? Kaget?? Udah pasti dan saya hanya bisa menarik nafas dalam dalam.
Kemudian Ibu Elly bertanya kepada audience : "Bisakah anda menjawab pertanyaan anak jika bertanya Apa sih Pemerkosaan itu, Mama? Kenapa sih payudaraku besar sebelah? Keputihan itu apa sih?" Sebagai orang tua rasanya saya belum siap jika Samara tiba tiba bertanya sepeti itu?
Nah...sebelum ada pertanyaan seperti itu alangkah baiknya orangtua membekali diri dengan jawaban yang relatif bisa diterima anak seusianya.
Pertanyaan lain, kapan sih orangtua mulai bicara seks kepada anak? Menurut paparan Ibu Elly bahwa tiap anak kematangannya berbeda beda jadi alangkah baiknya kalo kita sebagai orang tua jeli dan peka melihat perkembangan anak. Karena tingkat kematangan anak lelaki dan perempuan saja sudah berbeda, lebih cepat perempuan.
So...gak bisa dipukul rata kita harus mulai bicara seks pada usia 8,9 atau 10. Memang sih rata rata anak jaman sekarang akan matang di usia 9 tahun dimana pada usia itu anak perempuan ada yang sudah mendapat menstruasi. Nah alangkah baiknya kita memulai pembicaraan seks pada anak diusia 8 tahun untuk membekali anak dan jangan sampai menunggu anak yang bertanya duluan yaaa... *selfreminder*
Fakta yang terjadi di luar, hampir setiap hari stasiun TV menyiarkan program/rekonstruksi pemerkosaan pada anak balita, oleh kakaknya, murid kelas V/VI SD atau siswa SMP. Dan menurut Pusat Konsultasi Terpadu RSCM jumlah kasus anak yang dirujuk untuk memperolah konseling karena pemerkosaan dan incest (hubungan antar keluarga kandung) yaitu sekitar 80%.
Dari responden yang terdiri dari siswa kelas 4,5 dan 6 SD diperolah hasil bahwa 40% anak belum pernah pacaran, 26% baru tahap naksir, 6% PDKT, 4% sedang punya pacar, 3% sudah pacaran lebih dari 1 kali, 11% lain lain dan 2% missing. Kemudian kegiatan yang menurut mereka disebut pacaran adalah 26% telp telponan, 19% jalan jalan, 7% pegangan tangan, 3% ciuman, 2% pelukan dan sisanya lain lain (ngobrol, bbm, curhat, belajar bersama)
Melihat data di atas sepertinya tugas dan tanggung jawab orang tua jaman sekarang sangatlah berat.
Beberapa kelalaian kita sebagai orangtua diantaranya :
1. Ketidaksiapan menjadi orang tua.
Menjadi orangtua itu berat karena tanggungjawabnya langsung kepada Allah. Saya sempat tertampar ketika Ibu Elly berkata : "Menjadi orangtua itu repot, trus siapa suruh punya anak?" Huaaa...JLEB banget kan?
2. Tidak punya tujuan pengasuhan.
Ini yang kebanyakan orangtua tidak lakukan. Sudah seharusnya kita merumuskan tujuan pengasuhan dan itu harus dibicarakan dengan pasangan. Istilah kasarnya nih...kalo kita main bola, tujuannya adalah mencetak gol eh...masa sih mendidik anak gak ada tujuannya? Karena jika tidak ada tujuan pastinya nanti akan berjalan melenceng tak tentu arah *JLEB lagi*
3. Meng-sub kontrakan Pengasuhan.
Meski dalam penjagaan anak kita dibantu oleh nanny/ART atau orangtua kita (eyang/nenek/kakek) tetapi tidak seharusnya orangtua menyerahkan pengasuhan anak pada mereka karena mereka tidak di design untuk mendididik anak. Yang namanya nanny/ART *maaf* pendidikannya relatif rendah sedangkan eyang/nenek sudah tua, sudah pasti secara fisik tidak akan sanggup mengikuti aktivitas sang cucu. Jadi..kita lah yang menjadi orangtua yang harus mendidiknya.
4. Export Pendidikan agama dan penerapannya.
Banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah yang berbasis agama (sekolah Al...Al...Al...) dengan harapan tercukupi semua ilmunya tetapi pendidikan agama harus tetap diajarkan oleh orangtuanya.
5. Tidak Membedakan Pengasuhan anak lelaki dan Peremupuan
Perlu diketahui bahwa kaum lelaki itu diciptakan dengan kecenderungan berfikir menggunakan otak kiri. Kemampuan verbal antara lelaki dan perempuan sangat berbeda. Jangan harap kita bisa panjang lebar bicara pada anak lelaki dan mereka bisa menangkapnya, jadi percuma aja kita cerewet pada anak lelaki. Perkembangan anak lelaki dan perempuan jelas berbeda, anak perempuan lebih cepat kira kira 1 tahun. Anak perempuan yang kecenderungan menggunakan otak kanan akan lebih bagus kemampuan verbalnya.
6. Beban Pelajaran Sekolah Yang Sangat Berat
Jaman sekarang pelajaran anak di sekolah makin berat saja, ditambah dengan les ini les itu yang akan membebani si anak. Terkadang orangtua tidak peka akan kondisi seperti itu yang nantinya membuat anak menjadi stress.
7. Kurang Siap, Tanggap dan Gaptek
Lagi lagi ngomongin teknologi yang gak ada habisnya. Perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat anak juga berkembangan dengan cepat. Perubahan teknologi ini membuat orangtua harus belajar lagi biar tidak kalah dengan anak.
8. Memberi anak perangkat teknologi
Kita sebagai orangtua harus lebih pintar dari anak, jangan sampai kita memberikan perangkat teknolgi yang canggih pada anak tapi orantuanya justru gaptek karena akan berdampak negatif pada anak. Dampingi anak dalam pemakaian perangkat canggih itu.
9. Kurang berkomunikasi dengan baik dan benar.
Miss komunikasi dengan anak akan membuat orangtua tidak memahami perasaan anak. Berikan informasi yang tepat pada anak agar anak tidak mencari jawaban sendiri di luar dengan media lain karena tidak menutup kemungkinan cara tersebut malah menyesatkan anak. Perlu diingat bahwa saat ini anak berkembangan di era digital.
10. Kurang Memahami Cara Kerja otak dan Tahapan perkembangan
Anak usia 2-3,5 tahun sel sel otaknya belum tersambung dan perkembangan sel otak itu akan sempurna di usia anak 7 tahun. Jadi mendidik anak seusia Samara saat ini lebih ditekan pada perasaan dan empati *maafkan Bunda, nak yang terkadang emosi dan marah denganmu* Tak heran jika sekarang banyak anak yang brutal, suka tawuran karena sejak kecil tidak diajarkan empati.
Dari 10 point kelalaian orangtua dalam mendidik anak, yuk sekarang kita harus punya prinsip dasar bahwa Orangtua adalah pendidik utama dan pertama dalam mengajarkan sexualitas. Berikan informasi dengan landasan agama dan putuskan masa lalu dengan menganggap bicara sex itu tabu dan saru.
Caranya yaitu :
1. Orangtua harus menyikapinya dan mempersiapkan sesuai usia anak
2. Latihan berbicara, caranya gunakan istilah dalam Al Qur'an
3. Miliki "The Courage To Be Imperfect" (jangan jaim)
4. Waspada
Rasa ingin tahu anak tentang seks adalah wajar karena inilah konsekuensi dari perkembangannya. Rasa ingin tahunya juga berulang ulang dengan issue yang sama. Semakin usia anak meningkat semakin detail rasa ingin tahunya.
Kiat dalam menghadapi pertanyaan anak seputar sex :
1. Tenang, kontrol diri dan jangan panik (relax)
2. Tarik nafas panjang and take it easy
3. Cek pemahaman anak dengan bertanya kembali : "yang kamu tahu apa nak?" Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengertian anak akan hal yang akan ditanyakan.
4. Katakan apa yang kita rasakan.
Seandainya kita kaget akan pertanyaan anak, ungkapkan lah dengan kata kata yang halus : "ih...bunda kaget loh dengan pertanyaanmu?"
5. Jawablah pertanyaan dengan Pendek dan Singkat.
Seandainya kita tidak/belum bisa menjawab, tunda dengan jujur, berikan batas waktu kapan kita bisa menjawabnya. Tapiiii...jangan kelamaan ditunda ya nanti malah si anak keburu cari jawaban sendiri.
6. Kunci jawaban dengan norma agama
Misalnya kalo seorang wanita sedang menstruasi itu tidak boleh sholat karena Allah melarangnya.
7. Gunakan The Golden Opportunity/Kesempatan Emas
Kesempatan dimana kita dapat menceritakan sesuatu/seksualitas kepada anak.
Di tengah tengah seminar para peserta juga diajak untuk praktek menjawab pertanyaan anak.
Contohnya :
Anak : Ma, boleh gak kita pelukan?
Mama : Yang kamu tahu apa?
Anak : Boleh..
Mama : Iya boleh kalo pelukannya dengan ayah, bunda, adik dan kakak
Tetapi jika anak menjawab :
Anak :Gak boleh
Mama : Iya, gak boleh kalo pelukannya dengan sembarang orang. Itu dilarang oleh Allah
Jadi kita gak boleh mematahkan jawaban anak karena itu kita perlu cek pemahaman dengan bertanya "yang kamu tahu apa?"
Anak : Ma, kapan sih aku mulai mens?
Mama : Yang kamu tahu apa?
Anak : Nanti kalo sudah besar
Mama : Iya benar, tetapi tiap orang berbeda beda ya..semua itu ditentukan oleh Allah
Berikut contoh komunikasi orangtua dan anak yang salah :
Anak : Ma, aku asalnya dari mana sih?
Mama : *panik* kamu kok nanya begituan sih?
Anak : aku kan mau tahu, ma...
Mama : jadi begini ya nak, awalnya mama papa sayang sayangan trus mama hamil, trus mama melahirkan kamu *menjawab dengan nada nyerocos*
Anak : aku gak ngerti mama ngomong apa? tadi temanku bilang kalo asal ibunya dari Medan dan bapaknya dari Madura. Trus sekarang aku mau tahu aku asalnya dari mana?
Gubrakkk....salah persepsi kan? Makanya lagi lagi harus ditanyakan : "yang kamu tahu apa?" Daripada kita menjelaskan panjang lebar dan bikin anak bingung, eh ternyata bukan itu jawaban yang dimaksud.
Jadi berikanlah penjelasan atas jawaban anak, kita hanya meluruskan dan mengunci jawaban dengan norma agama. Jangan pernah mencecar anak dengan pertanyaan balik dan menggantung jawaban karena akan membuat anak jadi malas bertanya lagi.
Di akhir seminar juga ada sesi tanya jawabnya, beberapa pertanyaan muncul dan yang paling menakutkan adalah kisah seorang ibu yang anaknya berusia 3,5 tahun tiba tiba bilang "Mama, minum pipis" dan "Mama makan ini (sambil menunjukan penis ke mamanya) Subhanallah saya merinding dan ibu Elly menjawab kemungkinan besar si anak pernah melihat gambar begitu entah dari internet atau hape dan si anak ingat terus. Besar kemungkinan dari hape nanny-nya.
Adalagi kasus anak kelas 4 SD mau disunat ternyata ketika sampai di tempat sunat si tukang sunatnya bilang kalo penis si anak besar sekali. Usut punya usut ternyata ketahuan kalo si anak seringkali dipake oleh si baby sitter untuk oral seks. Naudzubillah mindzalik.. Horor banget kan?
So, hati hatilah jangan dikira anak kita aman dipegang oleh pengasuh.
Kemudian kasus anak remaja usia 17 tahun dan tidak mau diantar ibunya kemana mana kemudian si anak tidak mau cerita/terbuka dengan orangtua. Menurut ibu Elly ada yang salah komunikasi antara orangtua dan anak gadisnya. Saya pikir itu hal yang wajar, namanya juga anak remaja pasti gak mau cerita sama orangtuanya, mereka lebih nyaman cerita dengan teman temannya etapiiii...justru itu yang salah. Jika anak sudah beranjak remaja, orangtua harus memposisikan diri menjadi seorang teman bagi anaknya.
Ternyata banyak fakta terungkap dari kekerasan seksual baik itu bersumber dari teknologi yang serba canggih atau lingkungan sekitar.
So, meski kita sudah mendidik anak sebaik mungkin dengan menerapkan norma norma agam dan menyekolahkan ke sekolah favorit, tapiii...itu semua gak cukup karena bahaya dari luar bisa mengancamnya. Maka dari itu berdoalah agar anak selalu dalam lindungan Allah SWT karena tidak ada yang bisa menjaga anak kecuali Allah *kekepin Samara*
Kembali lagi saya menegaskan bahwa kesimpulan yang dapat diambil dari seminar ini bahwa Orangtua adalah pendidik utama dan pertama dalam mengajarkan sexualitas.
Semoga kita selalu diberi kekuatan dan kesabaran dalam mendidik dan mengasuh anak untuk mencetak menjadi anak sholeh dan sholehah. Tak lupa berdoa agar kita dan buah hati kita selalu dalam Lindungan Allah. Amin...
Karena kita sebagai orangtua kelak akan ditanya dan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
OOT : Oiya dalam seminar kemarin juga saya bertemu dengan teman2 dunia maya yang selama ini hanya bertegur sapa lewat komen komen di blognya.. Senang rasanya bisa bertemu langsung *__*
![]() |
| Dari kiri ke kanan : Pungky, Yeye, Ibu Elly, saya dan Novi |
Langganan:
Postingan (Atom)


