Jumat, 10 Februari 2012

Suatu Senja di Tepi Danau

Di sela sela persiapan pindahan kantor yang riweh bin rempong sangat menyita waktu dan tenaga, bunda menyempatkan diri untuk update blog keluarga kami *takut berdebu dan muncul sarang laba laba* J


Jika bunda ditanya  apa yang dinantikan oleh seorang ibu bekerja? Jawabannya adalah wiken...
Yup, bener banget bunda sangat mendambakan wiken, kalo bisa nih everyday is weekend J


Setelah 5 hari meninggalkan Samara di rumah, berjibaku dengan jalanan ibukota yang crowded, berlari lari mengejar mas mas Commuterline, berkutat dengan angka2, kertas dan dering telepon komplain cabang maupun nasabah yang tak kunjung habis, gak heran kalo bunda mengidolakan hari sabtu dan minggu sebagai hari kemerdekaan *lebay sangat* J


Biasanya wiken selalu bunda manfaatkan dengan menghabiskan waktu bersama ndoro putri alit Samara. Sepertinya Samara paham kalo sabtu minggu adalah waktu bermanja manja dengan bunda, makanya Samara maunya nempeeeeeel mulu sama bunda. Bahkan ketika bunda masak pun Samara minta gendong, alhasil bunda menggendong Samara pake jarik kaya di film jadul Oshin yang pernah diputar di TVRI J


Sebagai orang tua kami berdua memang mendedikasikan seluruh waktu wiken untuk Samara. Kalo tidak ada acara keluar rumah kami bertiga hanya bercengkerama aja seharian. Terkadang sore hari kami naik motor mengelilingi setu babakan yang jaraknya selemparan batu dari rumah kami.


Setu babakan merupakan danau (orang Betawi menyebutnya Setu) yang berlokasi di Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan merupakan obyek wisata murah meriah J Setu Babakan ini terbilang unik, karena berada di tengah Perkampungan Budaya Betawi. Begitu memasuki kawasan setu, kami akan disambut gapura khas Betawi. Kemudian terlihatlah rumah-rumah khas Betawi.


Rumah yang tersusun rapih itu berjajar di kiri kanan memasuki setu. Sengaja dibuat seperti itu, sebagai bentuk proteksi Pemerintah Daerah DKI Jakarta, terhadap penduduk asli Ibu Kota, agar Budaya Betawi tak lekang oleh perkembangan zaman. Perkampungan ini merupakan rintisan pelestarian dan pengembangan budaya Betawi secara berkesinambungan. Selengkapnya bisa baca di sini 
Dan sore itu meluncurlah kami ke sana, alhamdulilah kami bisa menikmati indahnya matahari terbenam
sunset


indahnya matahari terbenam


Nah...kalo yang ini kumpulan foto narsis kami J

menikmati senja ^_^

hayooo...samara mirip ayah gak ya?

Lihatin orang mancing
Suasana obyek wisata Setu Babakan tergolong rame apalagi kalo sore hari menjelang malam minggu. Banyak sekali muda mudi dan para orangtua yang mengajak keluarganya berekreasi. Disana juga ada penjual makanan khas betawi seperti kerak telor, laksa, dodol betawi, nasi uduk bahkan tersedia juga bir pletok yang jadi minuman khas betawi.

Meski bunda bukan orang betawi tapi boleh dong berkampanye sedikit :

"Ayoooo kita budayakan situs budaya Betawi dan galakkan program wiken tanpa mall" *kampanye tanpa bayaran* J

2 komentar:

  1. Wow..sunsetnya keren!

    Akhir pekan memang bertambah istimewa setelah punya anak ya :D

    BalasHapus
  2. bener banget jeng...pokoke semua semua utk anak :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berkomentar :)