Selasa, 31 Januari 2017

{Review Film} IQRA Antara Religi dan Pengetahuan

Iqra = Bacalah

Film Iqra sudah lama saya nantikan penayangannya yaitu sejak awal Desember tahun lalu. Pertama kali tahu film ini dari grup WA sekolah Samara. Dari situ saya membaca sedikit sinopsis film tersebut dan gak sabar pengin lihat filmnya. 

Dari obrolan para ortu, saya baru tahu kalau ternyata pemain utama film Iqra yaitu Aisha Naura Datau adalah alumni dari sekolah tempat Samara sekarang belajar. Bahkan anak SD kelas 5 mengadakan acara nobar bersama si pemeran Aqila. Seruuu yaa.. Tapi sayang kami gak bisa ikutan nobar karena tiket sudah sold out. Yuk aahh.. Di review aja filmnya :)

Adalah Aqila (Aisha Naura Datau) seorang gadis kecil yang cinta akan dunia astronomi, namun belum bisa mengaji. Kecintaannya terhadap dunia astronomi ternyata diwarisi oleh Opa-nya yaitu Opa Wibowo (Cok Simbara) yang berprofesi sebagai astronom di Observarium Boscha. Pada suatu hari Aqila yang bercita cita menjadi astronot ingin sekali membuktikan kepada teman temannya kalau Pluto sudah bukan planet lagi. 

Saat libur sekolah, Aqila mengunjung Opa dan Oma (Neno Warisman) di Lembang. Dia mengutarakan kepada Opa niatnya untuk melihat Pluto melalui teropong besar di Boscha. Opa Wibowo akan mengabulkan permintaan cucunya asal bisa mengaji. Menurut Opa belajar astronomy tidak bisa lepas dari ilmu yang ada dalam Al Qur'an. Makanya Aqila harus bisa baca Al Qur'an dulu sebelum melihat Pluto. Nah PR banget yaa buat Aqila yang belum bisa mengaji. Akhirnya ditemani oleh Ros, Aqila mengikuti pesantren yang diajar oleh kak Raudhah (Adhitya Putri) 

Demi melihat Pluto, Aqila berusaha keras agar bisa membaca Al Qur'an, meski selalu diganggu oleh lelaki kecil iseng bernama Fauzi (Raihan Khan). Berkat ketekunannya Aqila berhasil lulus Iqro dengan cepat. Kelulusan Aqila dibarengi dengan keikutsertaan Aqila dalam festival Iqro. Selain Aqila, Fauzi juga mengikuti festival tersebut. Tak disangka lelaki kecil iseng yang merupakan cucu dari seorang nenek berdarah Palembang (diperankan oleh Meriam Belina) itu bisa menyabet juara 1 dalam festival Iqro.

Dan sesuai janji Opa jika Aqila bisa mengaji akan diajak ke Bosha untuk melihat Pluto. Tapi sayang...Opa tidak bisa memenuhi janji kepada cucunya karena beliau sudah tidak bekerja lagi di observarium. Keputusannya berhenti bekerja karena beberapa hal yang salah satunya yaitu adanya pembangunan hotel di kawasan Lembang yang pastinya akan menggangu pengamatan benda benda langit di malam hari. 

Berkat kekuatan pers dan media akhirnya pembangunan hotel berhasil dibatalkan. Opa Wibowo bisa bekerja kembali dan Aqila pun bisa melihat Pluto melalui teropong utama di Boscha. 

Nah..sekarang apa aja kelebihan dan kekurangan film ini?

Daya Tarik Film Iqro 

Beruntung banget film ini didukung oleh para pemain senior yang udah gak diragukan lagi actingnya. Dari mulai Cok Simbara sampai Mike Lucock pemeran bang Codet si preman kampung yang juga menjadi bapaknya Fauzi. Untuk pemain baru yaitu Aisha Datau juga bermain bagus karena mungkin bakat aktingnya menurun dari si ibu yaitu artis Ine Febrianti. Jadi yaa...secara acting film ini gak perlu diragukan lagi lah..
Menurut saya para pemain itu menjadi daya tarik tersendiri di film ini. 

Bumbu bumbu komedi yang dihadirkan dalam film ini membuat kita jadi gak boring nontonnya. 

Minusnya......

Jalan ceritanya kurang kuat. Antara mau mengambil sisi religi dan saint atau menceritakan terancamnya Observatorium Boscha karena pengaruh cahaya akibat pembangunan hotel di sekitar Lembang? Di akhir cerita tidak ada pembuktian Aqila kepada teman sekolahnya tentang Pluto. Film berakhir pada saat Aqila berhasil meneropong Planet. Jadi....menurut saya endingnya menggantung banget.

Jalinan ceritanya kurang nyambung, bisa dikatakan scenario-nya lemah. Konflik yang dibangun kurang tuntas, gak ada ending yang jelas. Ada beberapa "noise" di adegan saat mobil Opa Wibowo dibocorin oleh preman kampung. 

Sebagai pemeran Oma, suara aktris Neno Warisman rasanya kurang cocok dengan rias wajah yang belum terlalu sepuh. Mustinya suaranya biasa aja gak perlu dibikin seperti itu. Beda dengan Con Simbara, dia lebih gagah meski berperan sebagai kakek. 


So far...film ini cukup menarik untuk ditonton bersama anak. Meski ada kekurangan tapi wajar lah ini kan film perdana yang diproduksi oleh masjid Salman ITB dan Salman Film Academy. 

Dan.. Setelah nonton film Iqro, kami mampir ke Gramedia Kids, Samara langsung menuju ke rak Al Qur'an. Melihat pemandangan ini, siayah langsung cekrek aja..  :)


Sekian review sederhana saya tentang film Iqro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berkomentar :)