Kamis, 12 April 2012

Dependence

Pagi ini saya jadi pendengar yang baik atas percakapan ibu ibu teman kantor saya yang mengeluh anaknya sakit karena tidak bisa minum susu formula yang biasa diminum. 
Ada apa gerangan si anak tidak mau minum susu? Ternyata jawabannya adalah karena sang ibu sudah menghentikan botol susu dot-nya. Tujuan si ibu baik yaitu ingin menghentikan kebiasaan ngedot anaknya yang sekarang sudah memasuki kelas 4 SD. Omigod...saya sempet ternganga, udah kelas 4 SD kok masih ngedot? Lantas saya berfikir siapa nih yang salah?

Pertanyaan itu saya cerna dalam otak, kenapa hal itu bisa terjadi? Apakah si anak kecaduan banget dengan dot atau si ibu yang tidak berusaha mengentikannya ketika anak masih berusia dini yaitu sekitar 2 tahunan? Usut punya usut sebenernya si ibu ingin menghentikan kebiasaan ngedot dari dulu tapi pernah diuji coba ternyata si anak tidak mau minum susu, akhirnya si ibu pun mengalah dengan dalih daripada anak saya tidak minum susu mending saya ijinkan anak tetap ngedot. Malah yang lebih parahnya lagi si ibu berprinsip gak makan gak papa yang penting minum susu. Wah...saya geleng geleng kepala mendengarnya. Kok bisa bisanya susu dijadikan makanan pengganti? Padahal nih...sepengetahuan saya, ketika anak tidak mau minum susu di usia 1 tahun atau lebih, gak masalah loh...karena nutrisi susu bisa diperoleh dari sumber lainnya, misalnya dari makan makanan yang sehat, bergizi dan seimbang maka akan tercover kebutuhan nutrisi anak. 

Saya pernah membaca suatu artikel yang diliris di satu milis yang saya ikuti. Berikut artikelnya :

Berapa Banyak Susu yang dibutuhkan?

Masih banyak banget wanita (terutama ibu baru) yang kemakan omongan “ASI-nya kurang ya, kok bayinya nangis terus?” atau “ASI-nya sedikit, jadi nggak bisa stok, deh”, dan banyak lagi komentar mengenai jumlah susu yang harus dikonsumsi oleh bayi.
Nah, kalau tahun lalu kita membahas tentang perlu atau tidaknya minum susu maka dalam rangka Hari Susu Sedunia yang jatuh pada hari ini, kita bahas tentang berapa, sih, jumlah ASI ataupun susu yang dibutuhkan mulai dari newborn hingga toddler.
  • Untuk bayi ASI eksklusif, “hitungannya” ternyata mudah sekali. Bagi 25 oz (sekitar 750 ml) dengan perkiraan berapa kali si kecil menyusu dalam sehari. Misalnya, waktu Langit masih ASIX, saya perkirakan dia menyusu sekitar 10 kali dalam sehari. Berdasarkan kalkulator yang tersedia di kellymom.com, Langit meminum ASI rata-rata 75 ml per sesi menyusui.
  • Untuk bayi yang baru berumur sehari, mereka hanya membutuhkan 5-7 ml alias setengah sendok teh sekali minum ASI! Makanya kalau mommies yang baru melahirkan mengeluh soal betapa sedikitnya ASI yang keluar … ya memang sekian jumlah yang dibutuhkan si kecil. Jadi tak perlu khawatir, moms.
  • Bayi berusia 3 hari, membutuhkan 22-27 ml sekali minum. Pelajaran lagi, nih, moms, saat masih di rumah sakit sekali mompa ASI saya cuma dapet 15-20 ml. Sempat diremehkan, sih, mana cukup segitu? Tapi memang ternyata itu yang dibutuhkannya. Bayi usia 3 hari kan kecil, ya, kebayang kan lambungnya sebesar apa?
  • Bayi berusia seminggu diperkirakan membutuhkan ASI sebanyak 45-60 ml dalam satu kali sesi menyusu. Di usia ini, kebutuhan bayi meningkat, selamat datang di growth spurt pertama dalam hidup si kecil, ya, moms!
  • Bayi usia sebulan kebutuhannya sekitar 80-150 ml. Nah, di usia ini, biasanya baik ibu ataupun anak sudah tidak canggung lagi untuk menyusu. Bagi ibu bekerja, ini adalah yang tepat untuk mulai latihan memerah ASI, mencari metode yang tepat, dan mulai menyimpan ASI perah (ASIP) untuk nanti ditinggal bekerja.
  • Setelah anak mengenal makanan pendamping ASI (MPASI), yang perlu diingat oleh mommies adalah anak masih tetap butuh ASI. Judulnya saja “makanan pendamping”  artinya ya bukan pengganti :). Di usia 7 bulan, kebutuhan ASI anak biasanya mencapai 800 ml atau sekitar 93 persen dari total kebutuhan asupan gizi anak. Sementara usia 11 bulan keatas, kebutuhan ASI-nya menurun. Hanya sekitar 550 ml saja.
  • Untuk toddler atau balita, sebaiknya tidak mengonsumsi susu lebih dari 600-700 ml per hari. Konsumsi susu berlebih bisa mengakibatkan konstipasi atau bahkan anemia akibat kekurangan zat besi. Ini karena sifat susu yang menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh.
Nah, mudah-mudahan membantu, ya, moms! Sementara untuk yang anaknya sudah balita atau lebih tapi tidak suka minum susu, hal ini bukan menjadi masalah. Nutrisi susu bisa diperoleh dari sumber lainnya :).

Nah...dari situ sudah jelas kalo susu bukanlah sesuatu yang harus didewakan sebagai pengisi perut. Seandainya saya bisa berbagi ilmu dengan ibu ibu di kantor saya yang notabene sudah mempunyai anak usia SD dan mereka lebih berpengalaman, saya akan nimbrung masuk dalam percakapan mereka tapi....saya enggan masuk ke percakapan itu karena pernah ada yang mengganggap saya ibu baru yang sok tau. Ya sudah sejak saat itu saya cuma bisa diam saja. Memang susah mendobrak paradigma lama yang sudah melekat kuat di masyarakat. Sama seperti penggunaan antibiotik, saya juga dianggap ibu yang tega karena setiap Samara sakit batpil saya hanya melakukan home treatment tidak membawanya ke dokter kecuali jika sudah 3 hari berturut turut demam gak turun seperti halnya ketika Samara terserang virus Roseola Infantum. Jika Samara sakit common cold saya tidak pernah memberikannya antibiotik karena memang tidak diperlukan. Tidak seperti ibu ibu disini yang menganggap antibiotik adalah obat dewa yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Wah..wah..kok malah ngelantur ke antibiotik segala...:)

Back to ketergantungan dot, kasus seperti teman saya ini gak cuma dia aja yang mengalami. Ada teman saya yang lain juga baru bisa menghentikan kebiasaan ngedot anaknya ketika si anak duduk di kelas 3 SD. Saya pun bertanya dan si ibu lagi lagi menjawab sama yaitu daripada anaknya gak minum jadi biarkan saja dia ngedot. Ya sudah lah biarkan saja...makanya untuk beberapa percakapan saya labih suka menjadi pendengar setia saja.

Saya bersyukur bisa bergabung di banyak milis parenting yang menyajikan informasi seputar ASI, MPASI, kesehatan anak dan tumbuh kembang anak. Dan saya juga beruntung memberikan susu UHT yang membuat Samara berhenti ngedot di usia kurang dari 2 tahun dan berganti sedotan. Sehingga saya gak perlu capek capek untuk menghentikan kebiasaan ngedot yang berakhir dengan menyakiti perasaan si anak. Karena teman saya itu akhirnya anaknya sakit karena sakaw dengan dot. Semoga Allah memberikan jalan yang terbaik untuk teman saya dan anaknya. Amin...

Tulisan ini saya buat tanpa tendensi apa apa cuma sekedar curhat semata, bukan pula bertujuan untuk menge-judge seseorang. Demi Allah bukan itu maksud saya. Karena saya yakin semua orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya dengan caranya tersendiri. Semoga saya selalu bisa memberikan yang terbaik untuk Samara. Amin...  

2 komentar:

  1. Iya memang, agak susah mengubah pandangan yang sudah berlaku secara umum, apalagi kalo kita masih dianggap sebagai pemain baru. Aku juga sama seperti dirimu, jeng, banyak diam juga kalo udah di kumpulan ibu-ibu yang lebih senior. Kecuali kalo ditanya, baru deh aku jawab disertai fakta-faktanya, dan ternyata kadang akhirnya mereka bisa nerima juga...

    Sedih juga ya kalo anak udah kelas 4 SD tapi masih ngedot, bisa mengganggu pertumbuhan giginya juga kan..

    BalasHapus
  2. iya jeng...sedih banget denger cerita anak kelas 4 SD masih ngedot.

    Untuk beberapa percakapan aku cuma jadi pendengar saja. Silent is gold :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berkomentar :)