Jumat, 25 November 2011

Introspeksi Diri

*tarik nafas dalam dalam buang pikiran negatif dan sabarlah*
Bagaimana perasaanmu jika hakmu diambil orang lain? Marah, kesel, benci atau bahkan pengin ngacak ngacak muka orang tsb? Sangat manusiawi jika seorang manusia biasa merasa marah diperlakukan seperti itu dan ini terjadi pada diri sayah. Pengin nangis sekenceng kencengnya, pengin teriak kenceng KENAPA LO AMBIL HAK GW? Tapi sayah hanya bisa melepas tangis ketika ayah menelpon dan menanyakan perihal tsb.


Kejadian ini sebetulnya sudah ketiga kalinya dan sayah hanya bisa diam, nangis, sabar dan berdoa semoga orang2 itu dibukakan pintu hatinya. Begini ceritanya sayah bekerja sebagai staff bagian Bill Payment di salah satu bank dan pastinya kami banyak sekali berhubungan dengan pihak biller baik itu bank lain, asuransi, telekomunikasi, layanan publik seperti PLN, PT KAI dll. Nah sayah termasuk staff yang bertugas untuk menjalankan autodebet telekomunikasi antara lain T*lkomsel, Ind*sat dan Es*a. Sudah sekitar 6 tahun sayah berkutat dengan pekerjaan ini and i enjot it.


Setiap tahun kami selalu mendapat invitation dari T*lkomsel untuk gathering semua bank. Berhubung acaranya tiap tahun maka Ibu bos duluuuuuuuuu pernah bilang kalo ada invitation dari biller maka yang berangkat HARUS bergantian. Nah waktu 2 tahun yang lalu sebenarnya jatah sayah untuk ikut gathering di Bali tapi saat itu sayah lagi hamil 7 bulan dan harus merelakan jatah itu jatuh ke tangan rekan sayah *yang sama sama staff*    
Tahun lalu undangan ke Singapura, jatah sayah diambil lagi oleh atasan sayah yang GAK MAU NGALAH dg bawahan dan EGOIS ngotot berangkat karena belum pernah ke Singapura *ckckckck...kasian amat sih lu bos* Kali itu sayah hanya bisa diam & berdoa semoga orang2 tamak itu dibukakan hatinya utk bisa berlaku bijak.

Dan tahun ini undangan ke KL....lagi lagi jatah saya diembat oleh Spv sayah, duh...Gusti paringono sabar, apa yang harus sayah lakukan kali ini? Diam, pasrah? BIG NO NO....Sayah memberanikan diri bertanya ke ibu bos apa sih kriteria yang menentukan seseorang diutus untuk menghadiri undangan tersebut? Apakah sayah tidak berhak untuk mewakili padahal sayah yang mengerjakan semua autodebet transaksi T*lkomsel? Dan jawabannya apa sodara sodara? Karena kamu seorang STAFF. DUERRRRRRR....jawaban yang singkat jelas padat dan MENYAKITKAN. Padahal gak ada dalam ketentuan perusahaan yang bilang begitu, semua keputusan ini murni dari ibu bos. Lantas sayah bilang kalo begitu pekerjaan untuk autodebet dipegang saja oleh Spv dan ibu bos diam tak berkutik. Oke kalo itu alasannya sayah terima tapi maaf kalo sayah mulai detik ini akan ancang acang untuk not stay here longer.

Sayah cukup tahu saja bagaimana kepemimpinan ibu bos yang selalu memandang rendah staff, padahal kalo gak ada staff apakah semua transaksi bisa berjalan? Tubuh seseorang gak akan bisa berjalan tanpa ada KAKI. Mungkin ibu bos lupa akan hal itu..

Tapiii....sayah mulai mengambil segi positif dari kejadian ini seandainya sayah berangkat mewakili bank ke KL berarti saya harus meninggalkan Samara untuk 3 hari dan itu akan membuat sayah ketar ketir meninggalkan sang putri dengan ayah dan mbaknya saja. Kalo dulu pas outing to bali Samara ditemani oleh eyang yang sengaja datang dari Tegal jadi sayah gak ketar ketir. Waktu ke Bali stok ASIP sayah masih banyak jadi gak khawatir Samara kekurangan ASIP. Kalo sekarang stok ASIP cuma ada 7 botol di freezer dan ditambah lagi beberapa hari ini Samara kalo malam bisa nenen 3-4 kali, bentar bentar "minum cucu" sampai rasanya jam tidur sayah berkurang. Gak bisa terbayangkan kalo seandainya Samara 2 malam tidur tanpa "pabrik susunya".

Akhirnya sayah berpikir postitif bahwa Allah sayang dengan sayah dan keluarga, sayah belum diizinkan untuk meninggalkan titipan-Nya (baca Samara) hanya untuk menghadiri acara jalan jalan saja. Dan sayah juga berfikir kalo rejeki pasti gak akan kemana, rejeki gak akan salah alamat dan rejeki itu datangnya bisa dari mana aja termasuk dari lubang semut sekalipun. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui mana yang baik bagi umatnya.

"Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan" (Qs Ar Rahman)     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berkomentar :)